Takhi Dampeng Suku Singkil di Kampung Binanga Kecamatan Rundeng Kota Subulussalam Kajian Simbol dan Makna

Main Article Content

Liza Anhar Efendi
Bustami Abubakar

Abstract

Takhi dampeng merupakan satu tarian masyarakat suku singkil. Tari ini memiliki simbol dan makna tersendiri dan juga nilai budaya bagi masyarakat. Oleh karena itu, artikel ini hendak mengemukakan menyangkut nilai budaya, simbol, makna takhi dampeng suku Singkil bagi masyarakat Kampung Binanga Kecamatan Rundeng Kota Subulussalam. Nilai budaya dari tarian takhi dampeng terhadap masyarakat Kampung Binanga ada tiga aspek nilai, yaitu aspek moral, aspek sosial, serta aspek keimanan atau ketuhanan. Takhi dampeng suku Singkil bagi masyarakat Kampung Binanga memiliki makna dan juga simbol tersendiri. Takhi dampeng dilakukan dengan cara melingkar, proses ini dimaknai sebagai upaya untuk menjaga tamu terhormat dari mara bahaya dan penjahat. Gerakan silat dalam takhi dampeng mempunyai nilai makna keharusan untuk siap siaga menjaga tamu kehormatan. Adapun simbol yang terdapat pada takhi dampeng di antaranya penghayatan mendengarkan syair yang diiringi alat musik takhi dampeng merupakan simbol keadaan jiwa dan membangkitkannya membangun kesatuan masyarakat Singkil dalam solial dan kehidupan masyarakat. Membentuk lingkar serempak dan berlenggok, mengangkat kaki, membungkuk ke depan dan gerakan lainnya merupakan simbol dari keberagaman masyarakat Singkil yang harus dijaga dan terbuka menerima keberagaman. Kemudian, pakaian khas takhi dampeng berbentuk tabir yaitu warna kuning, merah, putih, hijau dan hitam. Warna kuning yaitu simbol keceriaan, kemegahan digunakan oleh raja-raja. Warna merah yaitu simbol yang melambangkan keberanian dan kepahlawanan yang digunakan oleh panglima atau kesatria. Warna putih melambangkan kesucian digunakan para pegawai syariat atau pemuka agama. Warna hijau yaitu simbol yang melambangkan kesuburan dan keadilan yang digunakan oleh penasehat dan pengambil keputusan kepemimpinan. Warna hitam sebagai simbol yang melambangkan ketabahan dan kekokohan yang digunakan oleh para pemangku adat.

Article Details

Section
Articles