NANDONG: TRADISI LISAN SIMEULUE

Main Article Content

Sanusi Ismail
Bustami Bustami

Abstract

Simeulue yang terletak di Lautan Hindia menyita banyak perhatian dalam peristiwa Tsunami yang terjadi pada Tahun 2004 lalu. Simeulue menjadi sorotan karena jumlah korban jiwa dalam peristiwa Tsunami tersebut sangat kecil dibandingkan kawasan-kawasan terdampak kuat lainnya. Sejumlah kalangan menyebutkan bahwa tradisi lisan yang ada pada masyarakat Simeulue-lah yang telah berperan menyelamatkan banyak jiwa mereka. Nandong adalah tradisi lisan yang populer di Simeulue. Tradisi lisan ini merupakan kearifan lokal yang penting karena mengandung  ajaran hidup dan pewarisan nilai dalam masyarakat Simeulue dari generasi ke generasi. Penelitian yang dilakukan sehingga menghasilkan artikel ini bertujuan untuk menggali substansi dan eksistensi kearifan lokal ini dalam masyarakat Simeulue. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data secara wawancara, observasi dan telaah dokumen. Penelitian ini mendapati bahwa Nandong adalah satu tradisi lisan tersendiri yang berbeda dengan tradisi-tradisi lisan lainnya di Simeulue, seperti Buai, Nanga-nanga, Tokok-tokok dan Nafi-nafi. Diantara semua tradisi lisan yang ada, Nandong adalah tradisi lisan yang paling berpengaruh dan fenomenal dalam masyarakat Simeulue. Sayangnya, eksistensi Nandong di Simeulue sudah terancam punah karena saat ini tidak banyak lagi masyarakat Simeulue yang mempelajari ajaran hidup yang kaya dan mendalam dalam Nandong. Tradisi lisan ini juga sudah ditinggalkan oleh generasi muda Simeulue.

Article Details

How to Cite
Ismail, S., & Bustami, B. (2020). NANDONG: TRADISI LISAN SIMEULUE. Indonesian Journal of Islamic History and Culture, 1(1), 33-51. Retrieved from https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/IJIHC/article/view/508
Section
Articles