Pemaknaan Simbolik pada Prosesi Kenduri Blang: Studi Kasus Gampong Ulee Gle Pidie Jaya

Main Article Content

Anismar
Rukaiyah
Abdullah Akhyar Nasution

Abstract

This study aims to determine the symbolic meaning of the kenduri blang procession in Gampong Ulee Gle Pidie Jaya. Researchers used qualitative-descriptive research methods. Data collection techniques are observation, interview, and document study. The results showed that the community interpreted kenduri blang as a symbol of gratitude and asked for blessings from Allah so that the next crop was bountiful. Besides that, kenduri blang can also strengthen the relationship between people to stay united and respect each other. Kenduri blang was held in September, precisely before the beginning of descending into the fields. The community participates by donating funds to buy buffalo, spices, and other necessities needed when the event is held.


Abstrak


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbolik dari prosesi kenduri blang di Gampong Ulee Gle Pidie Jaya. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif-deskriptif. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memaknai kenduri blang sebagai simbol kesyukuran dan meminta berkat dari Allah agar hasil panen berikutnya melimpah. Selain itu kenduri blang juga dimaknai sebagai pelestarian budaya Aceh, ajang memperkuat silaturrahmi antar masyarakat untuk tetap bersatu dan saling menghargai. Kenduri blang dilaksanakan pada bulan September tepatnya menjelang permulaan turun ke sawah. Masyarakat berpartisipasi dengan menyumbang dana untuk membeli kerbau, bumbu, dan keperluan lainnya yang dibutuhkan saat acara digelar.

Article Details

How to Cite
Anismar, Rukaiyah, & Nasution, A. A. (2021). Pemaknaan Simbolik pada Prosesi Kenduri Blang: Studi Kasus Gampong Ulee Gle Pidie Jaya. Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), 2(1), 23-34. https://doi.org/10.22373/jsai.v2i1.1180
Section
Research Articles

References

Ansor, M. (2014). Relasi Gender dalam Ritual Kenduri Blang pada Masyarakat Petani di Gampong Sukarejo Langsa. At-Tafkir, 7(1), 48-66.
Auliati (2014). Analisis Makna Simbolik dalam Adat Boeh Gaca Dara Baroe. Skripsi. Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.
Blumer, H. (1986). Symbolic Interactionism: Perspective and Method. University of California Press.
Krisyantono, R. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Putra Grafika.
Maifianti, K. S., Sarwoprasodjo, S., & Susanto, D. (2014). Komunikasi Ritual Kanduri Blang sebagai Bentuk Kebersamaan Masyarakat Tani Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat Propinsi Aceh. Jurnal Komunikasi Pembangunan, 12(2).
Mugni, A. (2018). Ritual Khanduri Blang: Agama dan Adat. Jurnal Al-Ijtimaiyyah, 4(1), 1-8.
Pawito (2007). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara.
Pemerintah Gampong Ulee Gle (2017). Laporan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Gampong (RPJMG) Ulee Gle. Pidie Jaya.
Rahimah, R., Hasanuddin, H., & Djufri, D. (2019). Kajian Etnobotani (Upacara Adat Suku Aceh di Provinsi Aceh). BIOTIK: Jurnal Ilmiah Biologi Teknologi dan Kependidikan, 6(1), 53-58.
Sarayulis, S. (2012). Makna Simbolik Tradisi Peusijuek dalam Masyarakat Aceh. Skripsi. Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.
Sobur, A. (2004). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Umiarso & Elbadiansyah (2014). Interaksionisme Simbolik dari Era Klasik hingga Modern. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Wanulu, R. (2016). Makna Interaksi Simbolik pada Proses Upacara Adat Cumpe dan Sampua Suku Buton di Samarinda. eJurnal Fisip-Unmul 4(3).