Dari “Diislamkan” ke “Dipestakan”: Pergeseran Makna Mujêlisên (Khitanan) pada Masyarakat Gayo

Main Article Content

Indra Setia Bakti
Harinawati
Siti Ikramatoun

Abstract

This study aims to describe the meaning shift of mujêlisên in Gayo society. The meaning given to the mujêlisên tradition has not been constant at all times. In the Gayo lens traditional, mujêlisên means something Islamic or "to be Islamic". So the activities carried out are directed at actions that are nuanced with spirituality. The study was qualitative research. This study found that over time, the meaning of the mujêlisên tradition was shifted. In praxis, the spirituality aspect not dominates the discourse but has been covered by profane culture festivity practices. It is supported by the various easily accessible facilities to fulfil the consumptive desires of festivity actors.


Abstrak


Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pergeseran makna mujêlisên pada masyarakat Gayo. Makna yang diberikan terhadap tradisi mujêlisên pada masyarakat Gayo tidak selalu ajeg dari masa ke masa. Dalam lensa adat Gayo, sunatan atau mujêlisên bermakna diislamkan, sehingga aktivitas yang dilakukan diwarnai tindakan-tindakan yang mengarah pada aspek spiritualitas. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif guna mengungkap dan merefleksikan pergeseran makna pada tradisi mujêlisên. Penelitian ini menemukan bahwa seiring perkembangan zaman, pemaknaan tradisi mujêlisên mulai ikut bergeser. Pada level praksis, gagasan spiritualitas tidak lagi mendominasi wacana, namun sudah ditutupi oleh praktik budaya pesta yang profan. Hal ini didukung oleh berbagai sarana yang tersedia dan mudah diakses untuk memenuhi hasrat konsumtif pelaku pesta.

Article Details

How to Cite
Bakti, I. S., Harinawati, H., & Ikramatoun, S. (2021). Dari “Diislamkan” ke “Dipestakan”: Pergeseran Makna Mujêlisên (Khitanan) pada Masyarakat Gayo. Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), 2(1), 1-12. https://doi.org/10.22373/jsai.v2i1.1138
Section
Research Articles

References

Aman Pinan, A. R. H. (2001). Daur Hidup Gayo. Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah.
Bakti, I. S., Amin, K., & Fakhrurrazi, F. (2020). Ruang Sakral dan Ruang Ritual Prosesi Adat Pernikahan Sintê Mungêrjê pada Masyarakat Gayo Lôt. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM), 1(2), 168-188.
Bakti, I. S. (2020). Reification of the Signified and Consumerization of Wedding Reception Sintê Mungêrjê in the Gayo Lot Society in Central Aceh District. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 8(2), 15-35.
Bakti, I. S., Anismar, & Amin, K. (2020). Pamer Kemewahan: Kajian Teori Konsumsi Thorstein Veblen. Jurnal Sosiologi USK, 14(1), 81-98.
Blumer, H. (1986). Symbolic Interactionism: Perspective and Method. University of California Press.
Bowen, J. R. (1984). The History and Structure of Gayo Society: Variation and Change in the Highlands of Aceh. A Bell & Howell Company.
Bunyamin, A. S. (2012). Sakral dan Profan dalam Kaitan dengan Ritus dan Tubuh: Suatu Telaah Filsafati melalui Agama dan Konsep Diri. Melintas, 28(1), 23-38.
Corrigan, P. (1997). The Sociology of Consumption: An Introduction. SAGE Publications.
Hurgronye, C. S. (1996). Gayo: Masyarakat dan Kebudayaannya Awal Abad ke-20. Balai Pustaka.
Husaini, H. (2021). Discovering Wisdom in Gayo Tradition with Reference to Islamic Educational Values in Marriage Practice. Journal of Contemporary Islam and Muslim Societies, 4(2), 204-234.
Ibrahim, M. & Aman Pinan, A. R. H. (2009). Syariat dan Adat Istiadat. Yayasan Maqamammahmuda.
Miles, M. B. & Huberman, A. M. (2004). Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber tentang Metode-Metode Baru. Jakarta: UI Press.
Muhammad, N. (2013). Memahami Konsep Sakral dan Profan dalam Agama-Agama. Jurnal Substantia, 15(2), 268-280.
Paputungan, R. (2011). Budaya Pesta Khitan bagi Orang Muslim di Kelurahan Motoboi Kecil. Holistik, Journal of Social and Culture 4(8), 49-60.
Sutardi, D. S. (2018). Perkembangan Tradisi Gantangan pada Masyarakat Pagaden Kabupaten Subang 1980-2010. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia.
Wasterman, R. (2019). Lukács’s Phenomenology of Capitalism: Reification Revalued. Palgrave Macmillan.
Wula, Z. (2020). Budaya Pesta dan Pengaruhnya terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi di Mausambi Kecamatan Mauroleh Kabupaten Ende). Jurnal Neo Societal, 5(1), 64-75.
Wulandari, T. (2014). Agama Antara yang Sakral, yang Profan, dan Fenomena Desakralisasi. Refleksi, 14(2), 165-177.
Yusuf, R. M. (2020). Aspek–Aspek Transaksional dalam Penggunaan Rokok sebagai Sarana Undangan Khitan dalam Perspektif Urf. Journal of Islamic Business Law, 4(3), 1-8.