Relasi Pertukaran Sosial antara Masyarakat dan Partai Politik

Main Article Content

Nofal Liata

Abstract

The study aims to discuss the social exchange relationship "symbiotic mutualism" mutual benefit between society and political parties. The author sees, the community's perspective saw political activity it is still perceived as something dirty, tends to apathy, not as a means of political struggle to make a profit.  The purpose of this study is to uncover more conceptual facts of favorable relationships to two parties so that political activity is then a place of healthy and conducive struggle, which is not contrary to the rules of the law.  The method of collecting data in this study is to use the primary data of political sociology core literacy, then to use secondary data on the relevance of social reality to strengthen primary data. This study of the symbiotic mutualism relationship is very beneficial to build the political awareness of the community and the elite of political parties to support development, whether it is the development of material and non-material, so that political activities become beneficial for all circles, not even in the left.

Article Details

How to Cite
Liata, N. (2020). Relasi Pertukaran Sosial antara Masyarakat dan Partai Politik. Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI), 1(1), 79-95. Retrieved from https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/jsai/article/view/483
Section
Research Articles

References

Agustino, L. (2009). Pilkada dan Dinamika Politik Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Arrizal. (2012). Teori Manajemen Sumber Daya Manusia Membantu Pemimpin Transaksional Memimpin Sumber Daya Manusia Melalui Proses Pertukaran. Manajemen dan Kewirausahan, 1.
Asshiddiqie, J. (2005). Kemerdekaan Berserikat, Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi. Jakarta: Konstitusi Press.
Biyanto. (2015). Budaya Kontrak Politik. Jakarta: Sindonews.
Bottomore, T. (1996). Elite dan Masyarakat. Jakarta: Akbar Tanjung Institute.
Budiharjo, M. (1992). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.
Damsar. (2010). Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Prenada Media.
Duverger, M. (1985). Sosiologi Politik. Jakarta: Rajawali.
Ismawan, I. (1999). Money Politics Pengaruh Uang dalam Pemilu. Yogyakarta: Media Pressindo.
Jumari. (2012). Peran Elit dan Basis Sosial Partai Demokrat dalam Pemilukada Kota Depok tahun 2010. Jakarta: Universitas Indonesia.
Mahfud, C. (2009). 39 Tokoh Sosiologi Politik Dunia dari Socrates Sampai Barack Obama. Surabaya: Jaringan Pena.
Mas'udi, M. F. (2004). Problematika dan Kebutuhan Membangun FIqih Anti Korupsi. Jakarta: P3M.
Nugroho, H. (2001). Uang, Rentenir dan Hutang Piutang di Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Philipus, & Aini, N. (2004). Sosiologi dan Politik. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rosyad, S. (2009). Praktik Money Politics dalam Pemilu Legislatif di Kabupaten Pekalongan tahun 2009. Artikel, .
Soelaeman, M. (1995). Ilsmu Sosial Dasar, Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: Eresco.
Susilo, R. K. (2008). 20 Tokoh Sosiologi Modern: Biografi Para Peletak Sosiologi Modern. Jogjakarta: Ar-ruzz Media.
Tawakkal, G. T. (2009). Peran Partai Politik dalam Memobilisasi Pemilih. Semarang: UNDIP.
Umam, A. K. (2006). Kiai dan Budaya Korupsi di Indonesia. Semarang: Rasail.
Widodo. (2002). Kamus Ilmiah Populer. Jakarta: Absolut.
Wirawan. (2013). Teori-teori Sosial dalamTiga Paradigma. Jakarta: Kencana.
Zuber, A. (2012). Model Penanggulangan Kemiskinan Masyarakat Pedesaan: Tinjauan Kritis. DILEMA, 10.
Undang-udang Nomor 12 Tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD & DPRD
Undang-undang Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
Undang-undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Partai Politik