Indonesian Journal of Islamic History and Culture https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/IJIHC <p><a href="https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/IJIHC" target="_blank" rel="noopener"><strong><img src="/public/site/images/awidyanto/homepageImage_en_US.png" width="111" height="148"></strong></a></p> <p><a href="https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/IJIHC" target="_blank" rel="noopener"><strong>Indonesian Journal of Islamic History and Culture</strong> <strong>(IJIHC)</strong></a> is a peer-reviewed journal that is committed to the publication of a wide range scholarship in Islamic history and culture, such as the history of science and technology in Islam, Islamic dynasties, Islamic figures, Islamic philology, Islamic archeology, and Islamic arts. In Particular, this journal’s interest is in regional Islamic studies that reflect the diversity of Islamic historical and cultural heritage. The journal is published twice a year, in January and June.</p> The Department of Islamic History and Culture in cooperation with the Center for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Aceh, Indonesia en-US Indonesian Journal of Islamic History and Culture NANDONG: TRADISI LISAN SIMEULUE https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/IJIHC/article/view/508 <p>Simeulue yang terletak di Lautan Hindia menyita banyak perhatian dalam peristiwa Tsunami yang terjadi pada Tahun 2004 lalu. Simeulue menjadi sorotan karena jumlah korban jiwa dalam peristiwa Tsunami tersebut sangat kecil dibandingkan kawasan-kawasan terdampak kuat lainnya. Sejumlah kalangan menyebutkan bahwa tradisi lisan yang ada pada masyarakat Simeulue-lah yang telah berperan menyelamatkan banyak jiwa mereka. Nandong adalah tradisi lisan yang populer di Simeulue. Tradisi lisan ini merupakan kearifan lokal yang penting karena mengandung&nbsp; ajaran hidup dan pewarisan nilai dalam masyarakat Simeulue dari generasi ke generasi. Penelitian yang dilakukan sehingga menghasilkan artikel ini bertujuan untuk menggali substansi dan eksistensi kearifan lokal ini dalam masyarakat Simeulue. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data secara wawancara, observasi dan telaah dokumen. Penelitian ini mendapati bahwa Nandong adalah satu tradisi lisan tersendiri yang berbeda dengan tradisi-tradisi lisan lainnya di Simeulue, seperti Buai, Nanga-nanga, Tokok-tokok dan Nafi-nafi. Diantara semua tradisi lisan yang ada, Nandong adalah tradisi lisan yang paling berpengaruh dan fenomenal dalam masyarakat Simeulue. Sayangnya, eksistensi Nandong di Simeulue sudah terancam punah karena saat ini tidak banyak lagi masyarakat Simeulue yang mempelajari ajaran hidup yang kaya dan mendalam dalam Nandong. Tradisi lisan ini juga sudah ditinggalkan oleh generasi muda Simeulue.</p> Sanusi Ismail Bustami Bustami Copyright (c) 2020 Indonesian Journal of Islamic History and Culture 2020-07-01 2020-07-01 1 1 33 51 PEKAN KEBUDAYAAN ACEH DALAM PERSPEKTIF HISTORIS https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/IJIHC/article/view/505 <p><em>Tulisan ini berjudul Pekan Kebudayaan Aceh Dalam Perspektif Historis. Pekan Kebudayaan Aceh atau PKA merupakan sebuah kegiatan yang berbentuk festival kebudayaan dengan menampilkan kekayaan budaya di Aceh berupa atraksi budaya, penampilan kesenian, pameran, dan seminar kebudayaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah awal penyelenggaraan PKA dan perkembangannya dari masa ke masa, manfaat yang dihasilkan, pergeseran nilai dan tujuan awal PKA, serta kritik dan masukan terhadap penyelenggaraan PKA. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu melalui langkah-langkah heuristik, wawancara, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi atau penulisan sejarah. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Pekan kebudayaan Aceh telah berlangsung selama tujuh kali penyelenggaraan dimana yang pertama kali diselenggarakan tahun 1958 dan terus berlanjut hingga yang terakhir PKA tujuh tahun 2018. PKA ini memiliki tujuan untuk pengembangan dan pelestarian nilai-nilai sejarah, adat, dan budaya Aceh serta sebagai sarana pemersatu dari berbagai etnis yang ada di Aceh. </em><em>S</em><em>elain itu PKA telah memberikan hasil yang cukup besar bagi pelestarian budaya Aceh. Sela</em><em>n</em><em>jutnya penelitian ini juga menjelaskan bahwa masyarakat sangat mengapresiasi penyelenggaraan PKA namun ada beberapa hal yang perlu dibenahi guna mencapai cita-cita mulia dari PKA itu sendiri.</em></p> Septian Fatianda Copyright (c) 2020 Indonesian Journal of Islamic History and Culture 2020-07-01 2020-07-01 1 1 52 68 Meaning in Two Paintings by Acehnese Artists https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/IJIHC/article/view/504 <p>This article interprets two artworks by two contemporary painters in Aceh. First painting is entitled <em>Di Tepi Zaman</em> by Iswadi Basri which portray historical and everyday object, while the second is a calligraphy from one of the Koranic verses entitled <em>Ath-Thalaq 7 </em>by Said Akram<em>. </em>Using several approaches encompassing iconography and semiotics, the author argues that both artists are not only conveying beauty but also serve an act of delivering message. While the former focuses more on aspect of history, the latter takes part in the religious aspect by using koranic verses. Both of the works derives from their observations and respond towards social phenomenon in Aceh. Despite using art not only as beauty but also for critiques, both of the artists still holding conformity with religious values especially by avoiding figural objects in their works.</p> Putra Hidayatullah Copyright (c) 2020 Indonesian Journal of Islamic History and Culture 2020-07-01 2020-07-01 1 1 23 32 Keramik Asia Tenggara dari Situs Lamreh, Aceh-Indonesia https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/IJIHC/article/view/503 <p>Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi keramik-keramik Asia Tenggara di situs Lamreh, Aceh-Indonesia. Keramik diperoleh dari hasil survei sistematik yang dilakukan pada tahun 2017. Semua keramik yang ditemukan dianalisis untuk menghasilkan sebuah klasifikasi lengkap keramik Asia Tenggara di situs Lamreh. Oleh karena itu, untuk menjawab permasalahan tersebut maka digunakan dua jenis analisis yaitu analisis morfologi untuk mengetahui jenis, bentuk dan hiasan keramik berdasarkan negara penghasilnya dan analisis perbandingan atau perbandingan relatif untuk menentukan usia keramik. Hasil analisis mendapati keramik-keramik Asia Tenggara di situs Lamreh berasal dari tiga negara yaitu Vietnam, Thailand dan Myanmar. Jenis keramik Vietnam yang ditemukan ialah keramik monokrom putih dengan motif hitam di bawah glasir yang dihasilkan di dapur Thanh-Hoa abad ke-14 Masehi. Kemudian, jenis keramik Thailand yang ditemukan adalah keramik Sukothai dan Si-Satchanalai yang dihasilkan pada abad ke-15 Masehi di utara Thailand. Terakhir adalah kendi hitam Myanmar yang dihasilkan di dapur Martavan pada abad ke-15 Masehi. Keramik-keramik Asia Tenggara dari abad ke-14 sehingga 15 Masehi tersebut adalah bukti nyata tentang kontak kebudayaan dan hubungan ekonomi antara Lamreh-Aceh dengan Asia Tenggara (Vietnam, Thailand dan Myanmar) sejak 700 tahun lalu.</p> Amir Husni Husaini Ibrahim Marduati Mokhtar Saidin Copyright (c) 2020 Indonesian Journal of Islamic History and Culture 2020-07-01 2020-07-01 1 1 11 22 FANSUR Sebagai Kota Tua Islam https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/IJIHC/article/view/502 <p>Fansur adalah kota purba Islam penting di Nusantara. Umumnya penulis kontemporer menyebut Fansur terletak di Barus Kabupaten Tapanuli Tengah. Kajian ini akan menguji apakah benar Fansur itu Barus, Tapanuli Tengah atau bukan. Penelitian&nbsp; dilakukan melalui pendekatan arkeologi dan studi literatur dari berbagai sumber-sumber Timur dan Barat. Dari fakta empiris dan data-data tulisan dan peta kuno disimpulkan bahwa Fansur terletak di Lhok Pancu/Lhok Lambaroneujid di Aceh Besar, bukan di Barus Tapanuli Tengah.</p> E. Edwards McKinnon Nurdin AR Copyright (c) 2020 Indonesian Journal of Islamic History and Culture 2020-07-01 2020-07-01 1 1 1 10