Women’s Religious Maturity in the Perspective of Ḥadīth and Psychology
DOI:
https://doi.org/10.22373/el-sunan.v4i1.9944Keywords:
Women’s Religious Maturity, Hadith Studies, Ritual Purification, Women and Mosque Access, Islamic PsychologyAbstract
Abstract
This study aims to examine women’s religious maturity in acts of worship through the analysis of two Prophetic hadiths concerning ritual purification (ghusl) and women’s access to mosques. The first hadith, narrated by ʿĀʾishah and recorded in Sunan Abī Dāwūd and Jāmiʿ al-Tirmidhī, addresses the obligation of ghusl based on the presence of physical evidence rather than subjective experience, and concludes with the statement: “Indeed, women are counterparts of men.” This formulation reflects not only normative equality but also recognition of women’s religious maturity, as they are treated as fully accountable individuals in fulfilling ritual obligations. The second hadith, reported by ʿAbdullāh ibn ʿUmar and preserved in Ṣaḥīḥ Muslim and Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, affirms that women should not be prevented from attending mosques. This narration further strengthens the notion of women’s maturity in religious life by acknowledging their independent intention and participation in communal worship, while prohibiting unjust restrictions imposed upon them. Using a contextual (asbāb al-wurūd) and hermeneutical approach, this study finds that both hadiths articulate a coherent prophetic paradigm emphasizing clarity, inclusivity, and facilitation. The findings demonstrate that women are recognized as mature moral agents (mukallafāt), whose religious responsibilities are grounded in objective criteria and whose participation in both private and public worship is legitimate and protected. This study concludes that a contextual reading of hadith reveals an inclusive vision of Islamic teachings that affirms women’s maturity, dignity, and full religious agency in accordance with the higher objectives of the Sharīʿah.
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji kedewasaan perempuan dalam beribadah melalui analisis dua hadis Nabi yang berkaitan dengan kewajiban mandi (ghusl) dan akses perempuan ke masjid. Hadis pertama, yang diriwayatkan oleh ʿĀʾishah dan terdapat dalam Sunan Abī Dāwūd serta Jāmiʿ al-Tirmidhī, menjelaskan kewajiban mandi berdasarkan indikator fisik, bukan pengalaman subjektif, serta ditutup dengan pernyataan: “Sesungguhnya perempuan adalah saudara kandung laki-laki.” Pernyataan ini tidak hanya menunjukkan kesetaraan normatif, tetapi juga menegaskan pengakuan terhadap kedewasaan perempuan sebagai subjek hukum yang bertanggung jawab penuh dalam pelaksanaan ibadah. Hadis kedua, yang diriwayatkan oleh ʿAbdullāh ibn ʿUmar dan terdapat dalam Ṣaḥīḥ Muslim serta Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, menegaskan bahwa perempuan tidak boleh dicegah untuk pergi ke masjid. Hadis ini semakin menguatkan konsep kedewasaan perempuan dalam kehidupan beragama, karena mengakui niat serta partisipasi mandiri mereka dalam ibadah kolektif, sekaligus melarang pembatasan yang tidak beralasan. Dengan menggunakan pendekatan asbāb al-wurūd dan hermeneutika, penelitian ini menemukan bahwa kedua hadis tersebut mencerminkan paradigma kenabian yang menekankan kejelasan, inklusivitas, dan kemudahan. Hasil kajian menunjukkan bahwa perempuan diposisikan sebagai subjek moral yang dewasa (mukallafāt), dengan tanggung jawab ibadah yang didasarkan pada indikator objektif serta memiliki hak untuk berpartisipasi dalam ruang keagamaan publik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembacaan hadis secara kontekstual mengungkap visi Islam yang inklusif, yang menegaskan kedewasaan, martabat, dan agensi keagamaan perempuan secara utuh, sejalan dengan tujuan utama syariat.
References
‘Asqalāni, Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Abu al-Fadl al-, Fath Al-Bāri Syarah Shahih Al-Bukhari (Dar al-Ma’rifah)
Abd al-Jabbar ibn Ahmad al-Hamadhani, Al-Mughni Fi Abwab Al-Tawhid Wa Al-‘Adl. (Dar Al-Fikr, 1965)
Abu Ishaq al-Syatibiy, Al-Muwäfaqät, Al-Muwäfaqät
Ahyadi, Abdul Aziz, Psikologi Agama (Sinar Baru Algensindo, 2005)
Al-Majmūʿ Sharḥ Al-Muhadhdhab
Al-Shātibī, Al-Muwāfaqāt Fī Uṣūl Al-Sharī‘Ah
Al-Sijistani, Sulaiman ibn Asy’as Abu Dawud Al-Azady, Al-Sunan, ed. by Muhammad Mahy al-Din ’Abd Al-Hamid (Dar al-Fikr)
Al-Suyūṭī, Al-Ashbāh Wa Al-Naẓā’ir (Dar al Kutub al Ilmiyah, 1998)
Daniel Goleman, Working With Emotional Intelligence (Terjemahan) (Gramedia Pustaka Utama, 2002)
‘Http://Www.Kevinringo.Web.Id/2013/02/Memahami-Psikologi-Wanita.Html’
‘Http://Www.Wivrit.Com/2013/12/Apa-Yang-Dimaksud-Dengan-Ego.Html’
‘Https://Risnapuspita.Wordpress.Com/2012/12/25/Logika-Pria-vs-Perasaan-Wanita/’
Ja‘fi, Imam Abi ‘Abdullah Muhammad bin Ismail al- Bukhāri, Sahih Bukhārī (Dar al-Salam, 1997)
Jalaluddin, Psikologi Agama: Memahami Perilaku Dengan Mengaplikasikan Prinsip-Prinsip Psikologi (Raja Grafindo Persada, 2012)
Marshal, Katherine, and Susan Hayward, Women in Religious Peacebuilding (Berceley Center, 2011)
Muhammad ibn Abu Isa al-Tirmizi al-Sullamiy, Al-Sunan, ed. by Ahmad Muhammad Syakir et. Al. (Dar al-Ihya’ al-Thurath)
Muhammad ibn Idris Al-Syafi’iy, Al-Risalah (Mathba’ah al-Babiy al-Halabiy, 1938)
Muslim, ibn al-Hajjaj Abu al-Husayn al-Qusyayriy, Al-Sahih, ed. by Muhammad Fuad Abdul Baqi, 5th edn (Dar Ihya al-Turath Al-’Araby)
‘No Title’ <http://aljawad.tripod.com/artikel/agama.htm>
Prawitasari, ‘Mengenal Emosi Melalui Komunikasi Nonverbal’, Bulletin Psikologi (Yogyakarta, 1995)
Qur’an and Woman (Oxford University Press, 1999)
Speaking in God’s Name (Oneworld, 2001)
Thohir, Mudjahirin, ‘Menakar Kedewasaan Beragama Masyarakat Indonesia Dalam Perspektif Budaya’, in Sarasehan FKUB Pekalongan (Pekalongan, 2014)
Utama, Agung, and Titien Hera Widi Handayani, Model Pemberdayaan Perempuan Miskin Melalui Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Potensi Lokal Di Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten
Wadud, Amina, Qur’an and Woman (Oxford University Press, 1999)
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Fauzi Saleh, Abd Wahid

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under an Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International (CC BY-NC-SA 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.



