Polemik Pemikiran Muhammad Natsir Dan Soekarno Tentang Negara Islam

Authors

  • Mawaddah Rahma Universitas Islam Negeri Palangka Raya
  • Daffa Rahel Zaida Universitas Islam Negeri Palangka Raya, Indonesia
  • Astri Wulansari Universitas Islam Negeri Palangka Raya, Indonesia
  • Andiva Satriadi Al-Qori Universitas Islam Negeri Palangka Raya, Indonesia
  • Surya Sukti Universitas Islam Negeri Palangka Raya, Indonesia

Abstract

Artikel ini menganalisis polemik pemikiran Muhammad Natsir dan Soekarno mengenai dasar negara dan relasi agama-negara di Indonesia dengan fokus pada perbandingan konseptual. Penelitian menjawab dua pertanyaan: bagaimana kedua tokoh memahami hubungan Islam, negara, dan dasar negara; serta bagaimana perbedaan tersebut berimplikasi terhadap perkembangan ketatanegaraan Indonesia 1945–1959. Penelitian menggunakan studi kepustakaan dengan menempatkan karya dan pidato primer kedua tokoh sebagai sumber utama, dilengkapi literatur akademik mengenai sejarah politik dan ketatanegaraan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Natsir secara eksplisit memperjuangkan Islam sebagai dasar negara, tetapi gagasannya tidak identik dengan teokrasi karena negara tetap dipahami sebagai institusi politik yang bekerja melalui mekanisme perwakilan dan diarahkan oleh nilai moral serta hukum Islam. Soekarno menolak penetapan Islam sebagai dasar formal negara dan menekankan negara kebangsaan yang menaungi seluruh golongan, tanpa menyingkirkan agama dari kehidupan publik. Perbedaan keduanya terutama terletak pada sumber legitimasi negara, tingkat institusionalisasi syariat, dan cara mengelola kemajemukan. Polemik tersebut berkembang dari perdebatan intelektual pada 1940-an ke perdebatan konstitusional di Konstituante pada 1957–1959. Kebuntuan Konstituante tidak melahirkan Pancasila, karena rumusannya telah terbentuk pada 1945, tetapi berakhir secara politik-konstitusional dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan Konstituante dan memberlakukan kembali UUD 1945.

References

Aminullah, M. “Agama dan Politik: Studi Pemikiran Soekarno tentang Relasi Agama dan Negara.” Jurnal Sosiologi Agama (2020). https://doi.org/10.14421/jsa.2020.141-03.

Aulia, Rizky, dan Retanisa Rizqi. “Pemikiran Agama dan Negara Mohammad Natsir.” Siyasah: Jurnal Hukum Tatanegara (2022). https://doi.org/10.32332/siyasah.v2i1.5113.

Badri, Ainul. “Pemikiran Muhammad Natsir tentang Agama dan Negara.” (2021): 193–202. https://doi.org/10.32332/riayah.v5i02.2814.

Damanik, Agustina. “Pemikiran Politik Islam Indonesia oleh Muhammad Natsir.” (2018): 214–227. https://doi.org/10.24952/yurisprudentia.v4i2.1508.

Fahrian, Yudi, dan Aidil Fitri. “Demokrasi Ketuhanan (Teistik) di Indonesia: Aktualisasi Nilai Pemikiran Moh. Natsir.” Justici (2023). https://doi.org/10.35449/justici.v16i2.699.

Indonesia. Keputusan Presiden Nomor 150 Tahun 1959 tentang Kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945.

Indonesia. Keputusan Presiden Nomor 200 Tahun 1960 tentang Pembubaran Partai Politik Masyumi.

Iskandar, Irwan, dan Ma. “Pemikiran Politik Muhammad Natsir Tentang Hubungan Islam dan Negara.” (2015): 1755–1770.

Jurnal dan Literatur Pendukung

Kahin, Audrey R. Islam, Nationalism and Democracy: A Political Biography of Mohammad Natsir. Singapore: NUS Press, 2012. https://doi.org/10.2307/j.ctv1ntgzh.

Listiyani, Ila, dan Mahli Zainuddin Tago. “Pengaruh Pemikiran Kemal Attaturk terhadap Pergulatan Tokoh Muhammadiyah dan Nasionalis tentang Hubungan Agama dan Negara.” Jurnal Artefak (2022). https://doi.org/10.25157/ja.v9i2.8815.

Lubis, H., dan Muhammad Ihsan Syahaf Nasution. “Meninjau Ulang Narasi Besar dalam Buku Sejarah tentang Mohammad Natsir pada Masa Percobaan Demokrasi Indonesia, 1950–1957.” Mukadimah (2021). https://doi.org/10.30743/mukadimah.v5i2.4027.

Mahrub, Yan Khairil, Yuwanto, dan Wahid Abdulrahman. “Pemikiran Muhammad Natsir Mengenai Demokrasi Teistik serta Relevansinya dengan Demokrasi di Indonesia Saat Ini.” Journal of Politic and Government Studies 6 (2017): 431–440.

Mistar, Jatim. “Gagasan Kebangsaan Mohammad Natsir dan Kontribusinya dalam Pemikiran Keislaman.” El-Furqania (2019). https://doi.org/10.54625/elfurqania.v4i02.3289.

Natsir, M. Islam sebagai Dasar Negara: Pidato dalam Sidang Pleno Konstituante pada Tanggal 12 Nopember 1957. Bandung: Pimpinan Fraksi Masjumi dalam Konstituante, 1957.

Natsir, Mohammad. Capita Selecta. Bandung: N.V. Penerbitan W. Van Hoeve, 1954.

Noor, Mohamad Muzammil Mohamad. “Muhammad Natsir: Sumbangannya Terhadap Perjuangan Agama dan Bangsa di Indonesia.” Journal of Al-Tamaddun (2022). https://doi.org/10.22452/jat.vol17no1.2.

Nufus, Ahmad Hayati. “Pendidikan dan Politikus: Analisis Pemikiran M. Natsir tentang Pendidikan Islam di Indonesia.” (2018): 39–52. https://doi.org/10.33477/alt.v3i1.416.

Sanusi, Anwar. “Pemikiran Transformatif Soekarno dalam Politik Islam.” Empower: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam (2018). https://doi.org/10.24235/empower.v3i2.3510.

Soekarno. “Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara?” Panji Islam, 1940.

Sukri, M. “Islam dan Pancasila dalam Pemikiran Mohammad Natsir.” Alfuad: Jurnal Sosial Keagamaan (2019). https://doi.org/10.31958/jsk.v3i1.1490.

Wahab, Wisyly. “Muhammad Natsir’s Thought on Correlation of Religion and State.” Jurnal Al-Aqidah 14, no. 2 (2022). https://doi.org/10.15548/ja.v14i2.4944.

Downloads

Published

2026-09-04

How to Cite

Rahma, M., Daffa Rahel Zaida, Astri Wulansari, Andiva Satriadi Al-Qori, & Surya Sukti. (2026). Polemik Pemikiran Muhammad Natsir Dan Soekarno Tentang Negara Islam. As-Siyadah, 6(02), 115–125. Retrieved from https://journal.ar-raniry.ac.id/index.php/Assiyadah/article/view/9907